6:20 PM
0

Hai net’ers kali ini saya mau share karya tulis yang saya buat, silahkan dilihat semoga bermanfaat ^.^





UPAYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETERNAK SAPI MELALUI EFISIEN PRODUKSI
BERDASARKAN HASIL PENELITIAN DITEMPAT PEMERAHAN SUSU SAPI LEMBANG,BANDUNG
KARYA TULIS
Disusun untuk melengkapi tugas mata pelajaran
Dan salah satu syarat mengikuti Ujian Akhir Nasional (UAN) 2010-2011 


Di susun oleh :
1. SENNA SUDIBYO                                NIS:0809.10.135
2. ERWIN FAJARAHMNAN                  NIS:0809.10.158
3. AFTRIA RAHAYU                                 NIS:0809.10.145

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL(IPS)
YAYASAN PEMBINA LEMBAGA PENDIDIKAN (YPLP-PGRI)
SEKOLAH MENENGAH ATAS PGRI BALARAJA
Jl.Raya Serang Km.24,5 Balaraja Tangerang. Telp (021)595 0872
BANTEN

LEMBAGA PENGESAHAN


Karya tulis ini telah diperiksa dan disahkan sebagai salah satu syarat
mengikuti Ujian Sekolah dan Ujian Akhir Nasional di SMA PGRI BALARAJA  tahun pelajaran 2010-2011



         Pembimbing I                                                                        Pembimbing II



SAYIDATUNA HABSAH, S.PD                                                                   DRS.ELLY BUDHAYA
Tanggal :                                                                                                       Tanggal :


Mengetahui
Kepala SMA PGRI BALARAJA

SUPRIN, S.Pd
NIP . 131 120 509

Tanggal :

i


==================================================================

               MOTTO
Masa kini adalah masa lalu untuk masa depan,
bila tak ada masa depan masa kini adalah masa depan,
dan masa lalu akan tetap menjadi masa yang telah berlalu.
Yerterday is memory Today is history and Tomorow is mistery.
It's something unpredictable but in the end it's right.
I hope you had the time of your life...
 
                                                          
                                                      PERSEMBAHAN
Karya tulis ini dipersembahkan untuk para
dewan guru, teman-teman di SMA PGRI BALARAJA
Dan untuk keluarga tercinta. Karena tanpa dukungan
dan do’a mereka semua ini mungkin tidak akan ada
artinya. Oleh karena itu penulis mengucapkan banyak
terima kasih.



ii

==================================================================

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT, karena berkat dan rahmat-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan judul “UPAYA PENINGK0ATAN KESEJAHTERAAN PETERNAK MELALUI PENINGKATAN EFISIEN PRODUKSI”
            Karya tulis ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN).
            Dalam menyelesaikan karya tulis ini,penulis tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak.  Oleh karena itu,  sudah sepantasnya dengan ketulusan hati penulis kami semua mengucapkan terima kasih
Kepada :
1. Bapak Suprin,S.Pd. selaku kepala sekolah SMA PGRI BALARAJA ;
2. Ibu sayidatuna habsah, s.pd selaku pembimbing materi ;
3. Bapak Drs.Elly Budhaya selaku pembimbing penulisan ;
4. Bapak unsa maulana,s.pd selaku wali kelas XII ips 1 ;
5. Teman-teman yang saya cintai yang telah banyak memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis.
              Penulis menyadari bahwa karya tulis ini yang kami buat masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangannya,oleh karena itu,penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ini.



iii

===================================================================
               Semoga karya tulis ini dapat bermanfat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi pembaca.

Balaraja,

Penulis






iv

===================================================================

DAFTAR ISI

LEMBAGA PENGESAHAAN  .…………………………………………… i
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ..……………………………………...…. ii
KATA PENGANTAR ..………………………………………........................ iii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………..… iv

BAB. I PENDAHULUAN ………………………………………..…… 1
            1.1 Latar Belakang ……………………………………..……….….. 1
            1.2 Identifikasi Masalah ……………………………....……..….….. 2
            1.3 Pembatasan Masalah ……………………………………....…… 2
            1.4 Perumusan Masalah ……………………………..…………..…. 2
            1.5 Tujuan Penelitian .............................................................................. 2
            1.6 Manfaat Peneliotian ……………………………………………. 3

BAB. II KERANGKA  TEORI  ………………………………………. 4
           2.1  Depinisi Pembangunan Peternakan ………………………….…. 4
           2.2  Industri Sapi Perah Di Indonesia …………………………….….. 5
           2.3  Optimalisasi Pembangunan Kawasan Peternakan .................. 6




v

=================================================================

BAB.III METEDOLOGI PENELITIAN ………………………………. 9
            3.1 Tempat dan Waktu Penelitian …………………………………...… 9
            3.2 Metode Penelitian ………………………………………………… 9
            3.3 Teknik Pengolahan Data ……………………………………….….. 9
            3.4 Analisis Data ……………………………………………………… 9



BAB. IV PEMBAHASAN …………………………………………………….…….….. 10
4.1  Pembangunan peternakan berperan sebagai bagian dari pertanian …..… 10
4.2 Usaha-usaha yang kiranya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat ….. 12
4.3  Peranan Kelembagaan Kelompok dan Koperasi ………………………....… 13
4.4. Memberdayakan Peternak Melalui Pengembangan Koperasi Agribisnis
       Peternakan …………………………………………………………………..... 16

4.5. Mengefektifkan Penyuluhan Sistem Agribisnis …………………………....... 19

BAB.V PENUTUP …………………………………………………..……. 23
            5.1 Kesimpulan …………………………………………..………....… 23
            5.2 Saran ………………………………………………………...…….. 23


DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 25
LAMPIRAN ……………………………………………...…….. 27

vi

==================================================================

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

         Permintaan pangan yang bergizi semakin menjadi kesadaran masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sumber protein hewani yang banyak dihasilkan dari peternakan adalah daging, telur dan susu.
        Kebutuhan susu segar untuk konsumsi masyarakat masih relatif kecil karena belum menjadi kebiasaan yang umum, sebaliknya susu bubuk banyak dikonsumsi. Peternakan sapi perah sebagai penghasil susu terbesar masih belum mampu memenuhi kebutuhan susu nasional.
        Kebutuhan terbesar berasal dari industri pengolahan susu sebagai produsen susu bubuk. Kabupaten Garut sebagai salah satu daerah penghasil susu terbesar di Jawa Barat, sangat didukung dengan temperatur  yang sejuk, sesuai dengan kebutuhan pemeliharaan sapi perah. Peternakan sapi perah sudah menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Garut. Dukungan pemasaran susu yang dilakukan koperasi–koperasi persusuan sangat membantu kemajuan perekonomian peternak.
         Kendala yang selama ini dialami oleh kelompok ternak Ar-Raudhotun Nur disebabkan karena kurangnya modal usaha, lemahnya menejemen usaha dan minim penerapan teknologi peternakan dalam meningkatkan produktivitas. Dalam kegiatan ini Puslit Bioteknologi sebagai pusat penelitian  akan mendukung dan membimbing peternakan sapi perah yang sudah ada dengan penerapan teknologi peternakan terpadu berupa: manajemen pemeliharaan, produksi susu, kesehatan hewan, pembibitan dan pengolahan limbah.

1

=================================================================


1.2  Identifikasi Masalah

           Berdasarlan latar belakang di atas maka penulis dapat mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :

1.2.1      sadarkah masyarakat tentang pentingnya suatu asupan gizi didalam tubuh mereka ?
1.2.2     sumber protein dari manakah yang amat penting untuk asupan gizi kita ?
1.2.3     berpengeruhkah suatu suhu/temperatur dalam pemeliharaan sapi perah ??
1.2.4      apa yang penyebab belum mampunya peternak sapi perah dalam memenuhi kebutuhan susu nasional ?

1.3  Pembatasan Masalah
  
             Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka sang peneliti hanya dibatasi manfaat peternak sapi perah di lembang bandung bagi masyarakat..

1.4  Rumusan Masalah
           
                    Bagaimana upaya peningkatan kesejahteraan peternak sapi ?

1.5  Tujuan Peneliti
          Untuk mengetahui bagai mana cara dan upaya peternak sapi melalui efesiensi produksi dalam peningkatannya ?





2

=================================================================
1.6  Manfaat Peneliti

         Manfaat penelitian ini yaitu dapat mengetahui upaya-upaya tau kendala para peternak sapi yang bermanfaat besar hasilnya untuk masyarakat di Bandung
a.    Bagi pemerintah

      Dapat lebih memperhatikan para kesejahteraan peternak sapi agar peningkatan swasembada susu nasional mampu memenuhi kebutuhan asupan gizi dan manfaat dari hasil peternak sapi perah tersebut.

b.    Bagi masyarakat

      Dengan meminum susu dari hasil para peternak sapi perah masyarakat Indonesia dapat mengetahui betapa pentingnya asupan gizi dalam tubuh kita agar menjadi sehat, cerdas, khususnya bagi balita.


c.    Bagi peneliti

     Penulis mampu mengetahui arti besar peranan para peternak sapi perah dengan manfaat yang dihasilkannya , dan menjadi sebagian salah  satu syarat untuk mengikuti ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional di SMA PGRI BALARAJA tahun ajaran 2010-2011






3

 =========================================================



BAB II
 KERANGKA TEORI

2.1 Definisi pembangunan peternakan

       Pembangunan peternakan merupakan rangkaian kegiatan yang berkesinambungan untuk mengmbangkan kemampuan masyarakat petani khususnya masyarakat peteni peternak,agar mapu melaksanakan usaha produktif dibidang petrnakan secara mandiri. Usaha tersebut dilaksanakan bersanma oleh petani peternak, pelaku usaha dan pemerintah yang efisien dan member manfaat bagi petani peternak. Pembangunan peternakan di Indonesia di tuujukan kepada upayapeningkatan produksi peternakan yang sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peteni peternak, memenuhi kebutuhan pangan dan gizi,menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan usaha, mendorong perkembangan agroindustri dan agribisnis dan mengembangkan sumber daya peternakan dalam rangka kelestarian lingkungan.
        Perkembangannya sampai saat ini masih relative rendah tingkat kemapuan pasokan produksi ternak dibandingkan dengan pertumbunhan  permintaan hasil ternak yang terus meningkat. Hal ini menyebabakan  kesenjangan antara permintaan dan penawaran merupakan tantangan yang cukup besar sekaligus peluang yang cukup menggiurkan pada sub sector peternakan sehingga mampu memenuhi konsumsi dalam nergeri.




4

===============================================================

2.2 Industri sapi perah di Indonesia

           Industi sapi perah di Indonesia mempunyai struktur yang relative lengkap yakni peternak, pabrik pakan dan pabrik pengelola susu yang relative maju dan kapasitas yang cukuf tinggi, dan tersedia kelembagaan peternak yakni GKSI ( Gabungan Koprasi Susu Indonesia ). Kelengkapan ini dimungkinkan sebagai  akibat kebijakan penanaman modal asing atau PMA dan kebiojakan perkoprasian. Sementara struktuk produksi susu perah terdiri atas usaha skala besar, UB ( lebing  dari 100 ekor ), usaha menengah, UM ( 30-100 ekor ), usaha kecil, UK ( 10-30 ekor ) dan usaha rakyat, UR ( 1-9 ekor ). UR umumnya merupakan anggota koprasi. UK berkembang di Sumatra utara, sedangkan UB dan UM berkembang di pulau jawa. Situasi kontribusi produksi susu sekarang US, UM, UK dan UR masing-masing 1, 5, 7 dan 90 persen. Selanjutnya kelompok US, UM, dan UK disebut sebagai usaha swasta atau US.

Konsep kebijakan pemerintah
           Sebenarnya, usaha sapi perah telah berkembang sejak tahun 1960 ditandai dengan pembangunan usaha-usaha swasta dalam usaha sapi perah disekitar Sumatra utara, jawa barat dan jawa tengah. Mulai 1977, Indonesia mulai mengembangkan agribisnis sapi perah rakyat ditandai dengan SKB tiga menteri-menteri . SKB ini merumuskan kebijakkan dan program pengembangan agribisnis di Indonesia. Paling tidak ada dua dasar yang digunakan yakni agribisnis sapi perah di kembangkan melalui koprasiKUD sapi perah dan pemasaran susu diatur oleh  koprasi dan IPS. Dalam SKB itu sama sekali tidak menyinggung usaha sapi perah swasta.


5


===============================================================

2.3 Optimalisasi Pembangunan Kawasan Peternakan
        Membangun suatu kawasan di Jawa Barat, khususnya kawasan peternakan, tak ubahnya membuat sepiring daging rendang yang empuk. Mengapa demikian ? karena dalam proses pembuatan rendang, selain memerlukan bahan-bahan dasar yang unik, juga memerlukan keahlian khusus dalam meramu dan meracik sampai hingga dihidangkan di meja makan. Rendang yang enak, pasti akan digemari dan dicari-cari oleh banyak orang. Begitupun dengan membangun kawasan peternakan, begitu banyak faktor yang terkait, begitu banyak kepentingan yang harus dikompromikan dan begitu banyak orang yang harus dilibatkan didalamnya. Dengan banyaknya ”tantangan” tersebut, sudah seharusnya jika perencanaan pembangunan kawasan peternakan tersebut harus lebih komprehensif dan lebih matang agar interaksi lingkungannya dapat berjalan serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya kesejahteraan serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan (development sustainability) di lingkungan tersebut.
          Untuk membangun kawasan peternakan setidaknya terdapat 5
(lima) isu strategis yang harus mendapat perhatian, yaitu :
(a) terjadinya konflik kepentingan antar-sektor, seperti lingkungan hidup, kehutanan, perkebunan;
(b) belum optimalnya penataan ruang dalam rangka menyelaraskan, mensinkronkan, dan memadukan berbagai rencana dan program diantara sektor – sektor tersebut,
(c) inkonsistensi kebijakan terhadap rencana tata ruang serta kelemahan dalam pengendalian pembangunan sehingga terjadi penyimpangan pemanfaatan ruang dari ketentuan dan norma yang seharusnya ditegakkan; (d) belum adanya keterbukaan dan keikhlasan dalam menempatkan kepentingan sektor dan wilayah dalam kerangka penataan kawasan, serta





6

============================================================



(e) Perencanaan yang dilaksanakan cenderung masih bersifat jangka pendek sehingga seringkali tidak memperhatikan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan jangka panjang. Isu - isu tersebut tentunya harus disikapi dengan sangat cermat dan penuh dengan kehati-hatian. Karena jika tidak, dikhawatirkan akan menjadi hambatan dalam pembangunan suatu kawasan peternakan
yang dicita-citakan.
       Maka untuk mewujudkan suatu pengembangan kawasan peternakan di Jawa Barat yang ideal maka strategi yang perlu kita laksanakan adalah :
1. Mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang merupakan basis ekologi pendukung pakan dan lingkungan budidaya. Optimalisasi lahan itu dapat dimulai dengan mengkaji kesesuaian lahan, agroklimat dan daya tambung kawasan yang mendukung keunggulan lokasi bersangkutan yang diikuti dengan menyinkronkan tata ruang secara nasional, regional dan lokal.
2. Meningkatkan pemberdayaan peternakan melalui, peningkatan pengetahuan dan pembentukan kelembagaan peternak yang diarahkan menuju terbentuknya suatu koperasi usaha sehingga peternak sebagai subjek pembangunan dapat meningkat pendapatan dan kesejahteraannya.
3. Meningkatkan produksi dan produktivitas ternak sebagai objek pembangunan melalui penentuan jenis ternak yang dapat menghasilkan keuntungan dengan skala usaha yang ekonomis dan potensi pemasarannya, dapat diterima oleh masyarakat setempat serta selaras dengan kebijakan pembangunan daerah tersebut. Selain itu, dalam upaya meningkatkan produktivitas, aplikasi teknologi tepat guna harus
dioptimalkan guna menghasilkan produk yang berdaya saing, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.







7


=================================================================


4. Menyediakan sarana dan prasarana pendukung berkembangnya kawasan agribisnis, diantaranya, penyediaan sarana produksi : industri pakan, industri bibit / bakalan ternak, industri obat dan vaksin, industri alat dan mesin pertanian dlsb; penyediaan Pengamanan Budidaya : poskeswan, pos IB, sarana pembuatan kompos dan lainnya; penyediaan pengamanan pasca panen dan pengolahan hasil : rumah potong hewan, industri pengolah susu, industri pengolah daging dan produk ternak lainnya serta penyediaan sarana pemasaran : holding ground, pasar hewan, sarana transportasi dlsb.

5. Mengembangkan integrasi dan interaksi antara kelembagaan usaha, yaitu kelembagaan keuangan (permodalan), kelembagaan penyuluhan, kelembagaan koperasi, kelembagaan penelitian dan kelembagaan pasar























8


=========================================================


BAB III
METEODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian
      Temapat penelitian ini di lembang ,bandung, perpustakaan daerah dan perpustakaan SMA PGRI Balaraja. Waktu penelitian di laksanakan pada tanggal 15 Desember tahun 2010 sampai dengan akhir maret 2011

3.2 Metode Penelitian
     Berdasarkan metode penelitian ini , penulis melakukannya dengan cara mengumpulkan data-data tentang upaya peningkatan kesejahteraan peternak sapi perah dengan metode deskriftip dan kajian pustaka

3.3 Teknik Pengolahan Data
     Teknik pengolahan data yang penulis lakukan dengan cara obserpasi langsung ke peternak sapi perah yang ada di lembang bandung dan juga dengan cara analisa kepustakaan.
a.    Observasi
Yaitu suatu kegiatan pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh data-data yang di butuhkan .
b.    Teknik Kepustakaan
Yaitu teknik pengolahan data yang dilakukan dengan cara menganalisa buku – buku

3.4 Analisa Data
     Penulis melakukan penelitian ini dengan menggunakan anaslisa data secara non statistik.



9

==============================================================



BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Pembangunan peternakan berperan sebagai bagian dari pertanian.

      Pada hakekatnya berusaha mentransformasikan sistem peternakan tradisional menjadi sistem peternakan modern yang maju (Mosher,1969). Bagi Negara-negara Agraris umumnya pembangunan peternakan dianggap merupakan tahap strategis dalam rangka menuju proses industrialisasi, oleh karena :
(1) meningkatnya produktivitas subsektor peternakan akan menciptakan pasar yang makin luas bagi produk-produk industri dan memberi dukungan makin kuat terutama bagi industri-industri yang menggunakan hasil peternakan sebagai bahan bakunya.
(2) tersedianya barang-barang kebutuhan pokok penduduk dalam jumlah yang cukup dan dengan harga yang relatif murah, memberi peluang bagi sektor industri untuk menekan biaya produksi terutama melalui komponen upah tenaga kerja, sehingga dapat mendorong beroperasinya sektor industri yang memiliki daya saing cukup kuat.
(3) pembangunan subsektor peternakan yang berhasil meningkatkan pendapatan penduduk desa, dapat menciptakan rangsangan bagi perluasan akumulasi capital yang bila diperlukan dapat digunakan untuk tujuan produktif.
        Untuk mentransformasikan sistem peternakan tersebut di atas, maka setiap strategi pembangunan peternakan sekurang-kurangnya mencakup dua dimensi prima, yaitu dimensi teknis-ekonomi dan dimensi sosio-kultural yang berintikan proses pentransformasian sikap-mental, nilai-nilai, dan pola interpretasi petani-peternak ke arah usaha yang makin dinamis. Kedua dimensi tersebut saling terkait dan memiliki logika tersendiri sehubungan dengan elemen-elemen yang mendukungnya.


10

==============================================================



          Proses transformasi peternakan dapat diwujudkan bila terjadi perubahan dan
perkembangan yang serasi antara dimensi teknis-ekonomi dan dimensi sosio-kultural masyarakat peternak. Proses inovasi teknologi baru akan terjadi bila dalam batas-batas tertentu telah timbul minat dan kesadaran dari sebagian atau seluruh anggota masyarakat terhadap manfaat suatu teknologi (Rogers & Shoemaker, 1987).
           Oleh sebab itu strategi pembangunan peternakan yang berhasil selain diarahkanuntuk memperluas cakupan penyempurnaan teknologi intensifikasi, juga yang member perhatian sama besar terhadap usaha untuk meningkatkan kemampuan, sikap mental, dan responsitas petani-peternak, sehingga semakin banyak pula petani-peternak yang dapat dilibatkan dan menjalani proses perubahan.
          Dapat dikonsepsikan bahwa tingkat kesesuaian pola pembinaan dan pendekatan kepada peternak secara kuantitas dapat dilihat dari seberapa besar kemampuan pola pembinaan dan pendekatan itu untuk memotivasi dan merangsang peternak secara lebih aktif meningkatkan partisipasinya. Secara kualitas ditunjukkan oleh kemampuan mereka dalam menyerap unsur-unsur normatif dan substansi dari suatu program (termasuk intensifikasi peternakan sapi perah melalui koperasi yang dikenal dengan “sapta usaha ternak sapi perah yang dilaksanakan oleh peternak anggota koperasi).
         Pentingnya peranan koperasi persusuan (KUD Sapi Perah) dalam pengembangan peternakan sapi perah yaitu dalam mengatasi kesulitan modal. Pengadaan sarana sebagai modal yang diperlukan peternak dapat diatasi dengan fasilitas kredit dari koperasi. Di samping keterbatasan modal, peternakpun memiliki kendala keterbatasan pengetahuan dan keterampilan, serta lahan yang sempit. Hal ini oleh koperasi dapat diatasi dengan diadakannya program penyuluhan dan pembinaan bagi peternak baik dari segi teknis maupun non-teknis, serta melalui kerjasama dengan Perhutani untuk menanami rumput di lereng-lereng gunung disela-sela pohon keras.





11



=======================================================



4.2 Usaha-usaha yang kiranya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat
      Pertama-tama adalah mendekatkan kegiatan-kegiatan pembangunan pada tempattempat pemukiman masyarakat Indonesia, sehingga perlu dilakukan pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh Indonesia. Selanjutmya, kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan yang menuju peningkatan kualitas hidup, dapat berupa : adanya sumber-sumber daya alam yang dapat dikembangkan, adanya pasaran yang terbuka (prospek untuk mengembangkan sesuatu), tersedianya modal (uang, kredit), tersedianya sarana dan prasarana, dan terbukanya lapangan pekerjaan
     Menurut Ndraha (1990), pembangunan sebagai peningkatan kemampuan untuk mengendalikan masa depan, mengandung beberapa implikasi : Pertama, kemampuan (capacity). Tanpa kemampuan, seseorang tidak akan dapat mempengaruhi masa depannya. Kemampuan disini meliputi ; kemampuan fisik, mental, dan spiritual. Segisegi tersebut haruslah mengalami perubahan. Kedua, kebersamaan (equity) atau keadilan sosial, pembangunan berarti pemerataan. Bagaimanapun tingginya laju pertumbuhan suatu bangsa, jika kemajuan tidak merata, hal itu sia-sia belaka. Ketiga kekuasaan (empowerment). Kelemahan atau ketidakberdayaan merupakan kondisi manusiawi yang fatal, terutama dalam konsep politis. Empowerment berarti pemberian kesempatan kepada masyarakat untuk secara bebas memilih berbagai
alternatif sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan, dan keinginan mereka, dan memberi mereka kesempatan untuk belajar, baik dari keberhasilan maupun dari kegagalan mereka dalam memberi respon terhadap perubahan. Keempat ketahanan atau kemandirian. Implikasi ini mengandung arti luas, karena faktor-faktor pembangunan (sumber daya itu terbatas) maka sumber-sumber yang ada haruslah dapat dikelola sedemikian rupa sehingga pada suatu saat masyarakat yang




12

====================================================================



bersangkutan mampu berkembang secara mandiri dan sanggup merebut kesuksesan. Kelima, kesalingtergantungan. Hubungan ini tidak luput dari adanya konplik kepentingan, namun diharapkan ada kedudukan yang sama (egaliter) diantara pihak-pihak yang
terlibat.
      Peternak sapi perah di pedesaan sudah seharusnya memiliki mentalitas menusia pembangunan dalam peranannya sebagai juru tani sekaligus sebagai manajer dalam usaha tani yang dikelolanya, karena segala kegiatan produksi ternak bergantung kepada kualitas pribadi peternak berupa pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran membangun dalam jiwa peternak. Kesadaran membangun akan tumbuh bila peternak memiliki mentalitas manusia pembangunan yang menyangkut tata nilai, perilaku, dan orientasi harapan sebagai fungsi motivasi berprestasi yang memberikan dorongan kuat pada diri peternak dalam pengembangan usaha ternak. Tanpa adanya pendorong yang menjadi motor penggerak untuk bekerja secara produktif dan disiplin dalam mengelola ternak sapi perah, maka keberhasilan sulit tercapai.



4.3  Peranan Kelembagaan Kelompok dan Koperasi

         Menurut Wharton (1969) dalam Sinaulan (1992), tidak mudahnya petani
(peternak) menerima teknologi baru, karena teknologi tersebut dianggap riskan. Hal ini dapat dipahami karena teknologi baru bagi petani dianggap sebagai sesuatu yang
mengandung resiko, kalau gagal akan berdampak negatif bagi petani dan keluarganya. Lebih-lebih apabila dihubungkan dengan kenyataan, sebagian besar petani di Jawa berlahan sempit.
          Bagi petani-peternak, jaringan komunikasi yang mampu menggerakkan merekauntuk melakukan adopsi teknologi baru adalah kelompok tani-ternak. Melalui wadah ini peternak dibimbing dan diarahkan berperilaku sesuai dengan tuntutan perekonomiandinamis (Soewardi, 1972).

13

===============================================================
          

Dalam kelompok, petani-peternak dapat memperoleh informasi terutama informasi teknologi. Hal ini sesuai pendapat Adjid (dalam Satpel Bimas, 1980), bahwa di dalam kelompok tani terdapat proses transformasi, yaitu mengolah informasi baru dari PPL menjadi informasi praktis, spesifik, sesuai kondisi masyarakat setempat. Selanjutnya dinyatakan pula, PPL sebagai penyuluh merupakan titik bola proses adopsi inovasi, mengolah dan menyampaikan informasi teknologi baru melalui pengembangan dan pembinaan kegiatan kelompok tani ternak.
           Petani-peternak sebagai perorangan, memiliki perbedaan satu sama lain. Dalam hal caranya mengadopsi teknologi baru atau metode-metode baru, Mosher (1966) menggolongkan dua kategori petani. Pertama, kelompok petani yang masih mempertahankan metode-metode yang telah dipraktekkan orang tuanya, dan kadang-kadang meniru sesuatu yang baru dari tetangganya. Dalam sosiologi Barat disebut “peasant “ (subsistence farmers) (Soetrisno, 2002). Kedua, kelompok petani yang secara aktifmencari metode-metode baru, pengetahuan mereka banyak bertambah dari tahun ke tahun dan mereka mengharapkan masa depan yang jauh lebih baik, yang menurut Soetrisno (2002) disebut farmers.
            Kedua kelompok petani tersebut selanjutnya memperlihatkan perkembangan
usaha yang berbeda. Di satu sisi mereka termasuk peternak skala kecil (pemilikan ternak paling banyak 4 ekor) dan di sisi lain merupakan peternak skala besar (pemilikan ternak di atas 7 ekor).
           Kegiatan usaha koperasi dalam rangka melayani anggotanya meliputi kegiatan : pengadaan sarana produksi (konsentrat, obat-obatan ternak, pelayanan kesehatan dan inseminasi buatan), kegiatan penyuluhan yang bertujuan untuk mencapai “better farming”, “better business”, “better living”, “better community”, dan “better environtment”, dan kegiatan pemasaran hasil produksi ke Industri Pengolahan Susu (IPS). Hasil susu peternak terlebih dahulu dilakukan pengujian seperti kadar lemak di atas 3,5 %, total solid 11,3 %, solid non fat 7,8 % dan BJ sekitar 1,027. Apabila kualitas susu yang dihasilkan peternak tidak mampu memenuhi standar tersebut, dikenakan penalty (pengurangan
harga), dan jika melebihi standar mendapat bonus.


14

===============================================================

             Dengan demikian, baik pihak koperasi maupun anggota perlu bersama-sama untuk menggerakkan penerapan “sapta usaha ternak sapi perah” seperti pembibitan dan seleksi; pemberian pakan yang sesuai kebutuhan untuk produksi dan hidup basal ternak; pengendalian penyakit, pemeliharaan ternak, perkandangan, penanganan pasca panen, dan pemasaran (AAK,1993). Upaya pembibitan dilakukan dengan inseminasi buatan
(kualitas semen yang fertil), melakukan pencatatan (recording) baik dari aspek reproduksi maupun produksi susu. Dalam hal pakan, keterbatasan lahan milik peternak perlu dicari alternatif terbaik agar ketersediaannya ada sepanjang waktu. Di antaranya dengan cara pembuatan silage, hay atau teknik pengkubusan rumput yang sebaiknya dibuat oleh pihak koperasi dan dijual kepada para peternak seperti halnya konsentrat.
          Pengendalian penyakit, terutama “mastitis” yang dapat menurunkan produksi susu perlu menjadi perhatian peternak terutama pada saat pemerahan. Kandang juga harus senantiasa bersih dari kotoran terutama pada saat pemerahan, karena susu mudah terkontaminasi oleh mikroorganisma. Perlu ada drainage yang baik yang dapat menyalurkan kotoran sapi ke kebun rumput atau kolam penampungan limbah untuk selanjutnya diolah untuk dijadikan biogas atau pupuk kandang. Diusahakan jangan mengganggu tetangga (lingkungan) terutama mereka yang bukan peternak sapi perah (disalurkan dengan pipa paralon besar ke kebun rumput atau kolam penampungan).
         Fungsi kelompok sebagai wakil dari koperasi terutama memudahkan dalam
penyediaan sarana produksi, kegiatan pembinaan dan penyuluhan kepada para peternak serta dalam penampungan air susu. Melalui ketua kelompok arus informasi dari koperasi ke peternak dan sebaliknya aspirasi peternak ke koperasi disampaikan oleh ketua kelompok, sehingga ia perlu memiliki jiwa kepemimpinan (Mardikanto, 1993).






15

===============================================================

4.4. Memberdayakan Peternak Melalui Pengembangan Koperasi Agribisnis Peternakan

         Dilihat dari pengusahaan, kegiatan ekonomi berbasis peternakan diselenggarakan
oleh dua golongan yaitu peternak rakyat dan perusahaan peternakan. Kemudian, dilihat dari tingkat komersialisasinya, usaha peternakan dapat juga dikelompokkan menjadi empat pola usaha, yaitu ;
(1) usaha sampingan;
(2) cabang usaha;
(3) usaha pokok; dan
(4) industri peternakan.
Berapa besar pangsa masing-masing pola usaha tersebut belum pernah diperoleh secara empiris. Namun secara spekulatif dapat disebutkan berdasarkan jenis ternak.
       Usaha sapi potong, dewasa ini sudah terpolarisasi. Disatu sisi berada pada pola usaha sambilan-cabang usaha yang dikelola peternak rakyat, namun di sisi lain juga telah berkembang industri peternakan sapi potong yang dikelola oleh pengusaha. Usaha ayam ras pedaging dan petelur, dewasa ini telah berkembang sebagai usaha pokok sampai industri peternakan. Usaha ayam ras yang dikelola oleh perusahaan peternakan telah menjadi suatu industri peternakan yang terintegrasi secara vertikal. Artinya pembibitan ayam ras, industri pakan, budidaya, industri pemotongan ayam, bahkan sampai industry layanan makanan berada atau dimiliki oleh satu grup perusahaan.
        Satu-satunya kegiatan peternakan dengan pola industri peternakan yang dikuasaioleh peternak bersama koperasinya adalah agribisnis sapi perah yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI). Agribisnis sapi perah berhasil mengembangkan
organisasi bisnis secara dini, sehingga sampai saat ini agribisnis susu
segar mulai dari hulu sampai hilir dikuasai oleh peternak sapi perah melalui koperasinya (KPS/KUD) sebagai koperasi primer dan GKSI sebagai koperasi sekunder.

16

================================================================

         Namun demikian, para peternak beserta koperasinya tidak luput dari berbagai
persoalan. Lepas dari beban PPN untuk komoditas susu, retribusi daerah masih ada, “proteksi terhadap komoditas susu dicabut”. Akibatnya pihak koperasi beserta
peternaknya perlu bekerja keras memenuhi standar IPS, serta perlu dicari alternatif
pemasaran sendiri dengan produk olahan yang disukai konsumen. Ini merupakan suatu tantangan yang besar, namun jika berhasil meraih kepercayaan konsumen menyediakan produk yang berkualitas, beragam dan harganya lebih murah, koperasi sapi perah benarbenar akan menjadi “koperasi agribisnis”.
        Peluang untuk mengembangkan sapi perah ini masih terbuka bila dilihat dari segi tingkat pemilikan yang masih rendah (rata-rata 3,2 Unit ternak) dengan produktivitas sapi perah hanya 10-12 liter/ekor/hari, masih jauh bila dibandingkan dengan produktivitas ternak di negara maju rata –rata mencapai 25-30 liter/ekor/hari. Disamping itu, dilihat dari sisi permintaan, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 5,79kg/kapita/tahun (data 2001) (Ditjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian).
          Tingkat pencapaian ini masih jauh dari standar gizi yang ditentukan yaitu 7,2
kg/kapita/tahun. Di sisi pemasaran, sebagian besar hasil produksi dalam negeri (90%) dipasarkan kepada Industri Pengolahan Susu (IPS) dan sisanya diolah oleh Koperasi atau dikonsumsi langsung. Untuk mensuplai kebutuhan susu nasional sekitar 1.167.561ton/tahun, sekitar 59 % atau 687.914 ton /tahun masih impor dari luar negeri dalam bentuk bahan baku maupun bahan jadi seperti susu, mentega, yoghurt, whey, dan keju, namun ekspor juga dilakukan ke beberapa negara.
           Produksi susu sapi perah dalam negeri (SSDN) pada lima tahun terakhir (1998-2002) mengalami peningkatan sebesar 24 % dari 375.352 ton (1998) menjadi 493.375 ton (2002). Adapun Propinsi Jawa Timur dan Propinsi Jawa Barat merupakan dua propinsi terbesar penghasil susu.
          Proses pemberdayaan (empowerment) adalah suatu kondisi yang dapat
menumbuhkan kemandirian petani-peternak melalui pemberian kekuatan atau daya.
Menurut Bryant dan White (1982), pemberdayaan adalah pemberian kesempatan untuk secara bebas memilih berbagai alternatif dan mengambil keputusan sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan, dan keinginan. Petani juga diberi kesempatan untukbelajar dari keberhasilan dan kegagalan dalam memberikan respon terhadap perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya.
          17

============================================================

    Scott dan Jaffe (1994) mencirikan pemberdayaan petani-peternak sebagai upaya :
(a) meningkatkan kepuasan kerja;
(b) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan;
(c) memberikan kebebasan berkreasi serta mengembangkan hal-hal baru;
(d) pengawasan dilakukan melalui berbagai keputusan bersama;
(e) pemberian tugas lengkap tidak parsial;
(f) berorientasi pada kepuasan orang yang dilayani; dan
(g) memenuhi kebutuhan pasar. Sedangkan Ndraha (1987),
 Memberikan ciri pemberdayaan petani sebagai berikut:
(a) meningkatkan kemampuan;
(b) mendorong tumbuhnya kebersamaan;
(c) kebebasan memilih dan memutuskan;
(d) membangkitkan kemandirian; dan
(e) mengurangi ketergantungan serta menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.
         Mochtar (1993) dalam Warya (2005) mengemukakan bahwa bentuk dan cara
pemberdayaan sangat beraneka ragam, mengacu pada konsep-konsep pemberdayaan petani ke arah kemandirian dan ketangguhannya dalam berusahatani. Kondisi tersebutdapat ditumbuhkan melalui pendidikan/penyuluhan dalam membentuk perubahan perilaku, yakni meningkatkan kemampuan petani untuk dapat menentukan sendiri pilihannya, dan memberikan respons yang tepat terhadap berbagai perubahan sehingga mampu mengendalikan masa depannya dan mendorong untuk lebih mandiri. Pemberdayaan petani-peternak ini penting karena dalam proses pembangunan pertanian, petani merupakan sumberdaya pembangunan yang berperan sebagai pelaku utama
dalam mengembangkan usahataninya.
          Menurut Downey dan Erickson (1987) bahwa prinsip dasar dan unik yang
melandasi koperasi menuntut bahwa koperasi harus dimiliki dan dikendalikan oleh orang12 orang yang mengendalikan bisnis dengannya. Koperasi wajib mempertahankan orientasi pelayanan bagi para anggotanya.
       


18

=============================================================

       Untuk dapat melaksanakan pemberdayaan kepada peternak, pihak koperasi
melalui pengurus terutama ketua dan manajer koperasi serta penyuluh peternakannya sudah seharusnya berorientasi pada kepentingan peternak. Mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang manajemen usaha ternak sapi perah, membina dan menggerakkan peternak serta mampu memperluas pemasaran susu, selain pada IPS. Diantara koperasi yang sudah memasarkan produknya sendiri adalah KPBS, KPSBU, KUD Sarwa Mukti untuk Wilayah Bandung. Koperasi Susu Bandung Utara (KPSBU), Koperasi Peternak Garut Selatan dan Koperasi Serba Usaha Tandangsari merupakan profil koperasi susu yang mengalami kemajuan yang cukup pesat. Ternyata koperasi yang mengalami kemajuan adalah koperasi yang berorientasi pada kebutuhan anggota dan menyediakan pelayanan, penyuluhan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota, apalagi pasar (IPS) sangat menuntut susu yang berkualitas tinggi.


4.5. Mengefektifkan Penyuluhan Sistem Agribisnis


        Sejak dilancarkannya program-program penyuluhan dengan pendekatan sistem
BIMAS (1963/1964), sistem LAKU (1976), sistem INSUS (1979) dan sistem
SUPRAINSUS (1986), melalui inovasi tenologi Sapta Usaha Pertanian secara lengkap, serta dibangunnya prasarana transportasi, kemajuan teknologi, berkembangnya pasar hasil usahatani, profil petani Indonesia telah berubah secara positif, yakni lebih meningkat tingkat pendidikannya, lebih mengenal kemajuan, kebutuhan dan harapan harapannya lebih baik, dan telah mampu berkomunikasi secara impersonal.
         Jarmie (1994), menandaskan bahwa perilaku petani telah berubah menjadi petani komersial, yakni petani yang merencanakan usahatani dan berani mengambil resiko dalam menerima dan menetapkan ide perbaikan usahatani dengan berorientasi kepada kebutuhan pasar. Namun demikian, perubahan perilaku yang positif itu belum diikuti oleh


19

=================================================================

perubahan sikap rasional sebagai pengusaha usahatani yang mandiri dan tangguh. Kesejahteraan petani juga belum meningkat, padahal salah satu tujuan pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Hal ini disebabkan karena paradigma petani yang memandang bahwa usahatani adalah usaha produksi, yakni petani bertugas hanya untuk memproduksi hasil pertanian sebanyak13 banyaknya. Pasar, pemasaran, dan pengolahan hasil seolah-olah bukan menjadi bagian penting untuk diperhatikan petani-peternak.
         Konsep perusahaan dan sistem agribisnis dimunculkan untuk merubah paradigm petani-peternak bahwa mereka bukan hanya sebagai petani-peternak atau buruh taniternak atau pengusaha tani tetapi juga sebagai “manajer” atau pengelola perusahaan agribisnis yang berkedudukan setara dengan perusahaan agribisnis lainnya yang berada di subsistem hulu dan subsistem hilir.
          Menurut Suparta (2001), perilaku agribisnis dapat diukur dari : (1) aspek perilaku teknis produksi, yakni unsur panca usaha pertanian dan peternakan; (2) aspek perilaku manajemen agribisnis, yakni : perencanaan agribisnis, pemanfaatan sumber daya agribisnis, meningkatkan efisiensi, meningkatkan produktivitas, senantiasa memperbaiki mutu hasil, melakukan perekayasaan teknis produksi, melakukan fungsi kelembagaan agribisnis, dan selalu mengutamakan ketepatan dan kecepatan pelayanan; (3) aspek perilaku hubungan sistem agribisnis, yakni melakukan hubungan kebersamaan dan saling ketergantungan dengan perusahaan agribisnis lainnya, melakukan kerja sama secara harmonis, dan aktif melakukan komunikasi informasi agribisnis. Keberhasilan usaha peternakan tidak bisa ditentukan oleh peternak sendirian, tetai merupakan hasil sinergi antara peternak (perusahaan usahaternak dengan perusahaan yang menghasilkan sarana produksi peternakan dan perusahaan yang akan mengolah atau memasarkan hasilnya serta komponen penunjang agribisnis. Oleh karenanya harus ada kesamaan
sikap dan perilaku serta etika bisnis di antara pengusaha para pelaku sistem agribisnis lainnya tentang hakekat sistem agribisnis, yakni membangun sikap mental dan budaya industri pada masyarakat pertanian.




20

===============================================================

        Suatu kesalahan yang ada selama ini adalah :
(1) tindakan penyuluh yang selalu berfokus kepada upaya untuk memperbaiki kemampuan teknis produksi petani, padahal yang terpenting adalah meningkatkan kemampuan manajemen agribisnis dan manajemen hubungan sistem agribisnisnya; (2) para penyuluh kita telah terjebak di dalam lingkaran sistem kerja yang keliru, memandang peningkatan produksi sebagai tujuan akhir;
(3) disadari atau tidak para pejabat pertanian kita telah membentuk opini masyarakat bahwa tingkat produiksi dan produktivitas merupkan ukuran keberhasilan pembangunan pertanian; dan
(4) para pejabat pertanian memandang bahwa perusahaan agribisnis
yang berada di hulu dan hilir sebagai pengusaha yang sudah professional dan memahami sistem agribisnis, padahal mereka belum mampu memahami maupun melakukan konsep sistem agribisnis secara baik.
        Jika keberhasilan agribisnis tidak bisa dilakukan oleh peteni-peternak saja, maka komponen perusahaan agribisnis lainnya harus menjadi fokus perhatian yang tidak kalah pentingnya dengan peternak itu sendiri. Oleh karena itu, setiap kebijakan pemerintah di bidang pembangunan pertanian haruslah menyentuh semua komponen pelaku system agribisnis, mengkoordinasikan semua pelaku sistem agribisnis untuk memberdayakan agribisnis. Kebijakan dan tindakan itu harus dilakukan secara terus menerus hingga menjadi budaya bagi masyarakat agribisnis Indonesia.
        Menurut Soekanto (1990), kebudayaan diartikan sebagai garis-garis pokok
tentang perilaku yang menetapkan peraturan mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan. Pertanian “berbudaya industri” adalah pengelolaan kegiatan pertanian secara industri, yakni membuat kebudayaan industri menjadi kebudayaan milik pertanian, yang secara fundamental berarti membangun sikap mental dan budaya masyarakat pertanian sebagaimana sikap mental dan budaya yang hidup dalam masyarakat industri (Solahuddin, 1999). Kondisi yang berlawanan dengan buadaya industri adalah “budaya agraris” yang dicirikan oleh sifat komunal, diikat oleh kesadaran kolektif, terdapat ikatan emosional, hubungan dan orientasi primordial, keterkaitan dengan alam tinggi, dan teknologi masih sederhana.

21

=============================================================

        Ciri perilaku agribisnis yang diharapkan terbentuk adalah :
(1) tekun, ulet, kerja keras, hemat, cermat, disiplin, dan mengahargai waktu;
(2) mampu merencanakan dan mengelola usaha;
(3) selalu memegang teguh azas efisiensi dan produktivitas;
(4) menggunakan teknologi terutama teknologi tepat guna dan akrab lingkungan;
(5) mempunyai motivasi yang kuat untuk berhasil;
(6) berorientasi kepada kualitas produk dan permintaan pasar;
(7) berorientasi kepada nilai tambah;
(8) mampu mengendalikan dan memanfaatkan alam;
(9) tanggap terhadap inovasi;
(10) berani menghadapi resiko usaha;
(11) melakukan agribisnis yang terintegrasi maupun quasi integrasi vertikal;
(12) perekayasaan harus menggantikan ketergantungan pada alam sehingga produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang diminta pasar; dan
(13) professional serta mandiri dalam menentukan keputusan. Apabila ciri yang menjadi prinsip industri itu sudah dipahami, dihayati dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh komunitas para pelaku sistem agribisnis, maka perilaku agribisnis dikatakan sudah menjadi “budaya industri”.













22

=================================================================


BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

      Mengingat peternak rakyat kita umumnya serba kecil-lemah, maka secara individu tidak akan mampu merebut nilai tambah tersebut. Oleh sebab itu perlu ada suatu lembaga/organisasi bisnis peternak berupa koperasi agribisnis yang dikelola oleh orang-orang professional.
      Dengan adanya koperasi agribisnis peternakan milik peternakan rakyat (seperti
koperasi peternakan sapi perah) maka koperasi ini akan mengembangkan unit-unit
usaha pada agribisnis hulu (misalnya industri pakan ternak) dan unit-unit usaha pada agribisnis hilir (seperti perdagangan komoditas susu). Bila kondisi demikian dapat terjadi maka nilai tambah yang ada pada agribisnis hulu dan hilir akan dapat direbut oleh peternak rakyat melalui koperasinya
     Penyuluhan sistem agribisnis tidak hanya dilakukan terhadap petani-peternak saja, tetapi juga kepada para pelaku perusahaan agribisnis lainnya serta lembaga tertentu yang berada di subsistem penunjang. Penyuluhan sistem agribisnis juga memerlukan perubahan perilaku penyuluh, menjadi penyuluh sistem agribisnis yang professional. Penyuluh akan semakin efektif apabila secara sungguh-sungguh mampu menghayati materi penyuluhan sistem agribisnis, dan makin berkemampuan tinggi dalam menerapkan keanekaragaman metode penyuluhan dan media komunikasi kepada
sasaran penyuluhan secara tepat dan bijak. .

5.2. Saran

      Dalam melaksanakan pemberdayaan peternak melalui pengembangan koperasi
agribisnis, maka pihak pengurus (ketua ) dan manajer koperasi, serta penyuluh yang
membantu peternak di koperasi harus benar-benar orang professional dan memahami hakekat sistem manajemen agribisnis.
23

================================================================

      Diperlukan kebijakan pemerintah yang dapat menengahi posisi industri hulu, tengah dan hilir agar semua diuntungkan.































24

================================================================
DAFTAR PUSTAKA

1. AAK, 1993, Beternak Sapi Perah, Kanisius, Jakarta.
2. Bryant, C dan Louise G White, 1982. Managing Development In The third World, Westview Press, Boulder Colorado.
3. Ditjen Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Deptan, 2004, Kebijakan
Proteksi dan Promosi Sektor Pertanian, Penerbit Grasindo, Jakarta
4. Downey, W. David dan Steven P. Erickson. 1987. Manajemen Agribisnis (terj.).
Penerbit Erlangga.Jakarta.
5. Jarmie, M. Y., 1994, Sistem Penyuluhan Pembangunan Pertaian Indonesia, Disertasi, Program Pascasarjana, IPB, Bogor.
6. Loekman Soetrisno, 2002, Paradigma baru Pembangunan Pertanian : Sebuah Tinjauan Sosiologis, Kanisius, Yogyakarta.
7. Mardikanto, T., 1993, Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta.
8. Mosher, A.T., 1969, Menciptakan Struktur Pedesaan Progresif, Penerbit Yasaguna, Jakarta.
9. Rogers, Everett, M., dan F. Floyd Shoemaker, 1971, Communication Of Innovations. The Free Press. New York.
10. Slamet, Margono, 2003, Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Pedesaan, Dalam Bacaan Terpilih Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan, Penyunting Ida Yustina dan Adjat Sudradjat, IPB Press, Bogor.
11. Saragih, B., 2001, Kumpulan Pemikiran Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian, PT Loji Grafika Griya Sarana, Bogor.
12. Scott. Cynthia D., dan Dennis, T. Jaffe, 1994. Empowerment Buliding a Commited Workforce. Kogan Page Ltd. Pentoville Road London.
.13. 2003, Mengefektifkan Penyuluhan Sistem Agribisnis, Dalam Bacaan
Terpilih Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan, Penyunting Ida Yustina
dan Adjat Sudradjat, IPB Press, Bogor.
17. Taliziduhu Ndara, 1990 Pembangunan Masyarakat : Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas, Penerbit Rineka Cipta, Bandung.
25

================================================================


18. Warya, Adang, 2005. Peranan Penyuluh Pertanian Sebagai Pendidik Petani Dalam Mengembangkan Dinamika Usahatani Di Propinsi banten, Disertasi, Program
Pasacasarjana UNPAD, Bandung.






























26

===============================================================
LAMPIRAN
Gambar 1 : PENERAPAN TEKNOLOGI PETERNAKAN TERPADU DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SAPI PERAH


 
Gambar 2: Pakan Konsentrat


 




27

=================================================================



Gambar 3: pemberian pakan dan perawatan sapi


 



28

=============================================================




Gambar 4: proses pengambilan susu perah dan sapi-sapi yang berkualitas










29

=================================================================



Gambar 5: hasil perahan sapi perah











30

AUTO BIOGRAFI PENULIS

       SENA SUDIBYO ,dilahirkan di kota tangerang pada tanggal 15 februari tahun 1993,dari perkawinan suami istri bapak Daslin dan Ibu Yeyen. Tinggal di Kp.Cangkudu RT01/RW03 Ds.Cangkudu Kec.Balaraja Kab.Tangerang Prop.Banten. Jenjang pendidikan SDN Cangkudu 3 tanguh 1999-2005 melanjutkan di SMP PGRI BALARAJA tahun 2005-2008,saat ini penulis telah melanjutkan sekolah di SMA PGRI BALARAJA

      ERWIN FAJAR RAHMAN ,dilahirkan di kota tangerang pada tanggal 14 desember tahun 1992,dari perkawinan Bapak Endang Ibu Anis. Tinggal di Kp.Sempur RT05/RW02 Ds.Jayanti Kec.Jayanti Kab.Tangerang Prop.Banten.
Jenjang pendidikan SDN Cikande 1Tahun 1999-2005,melanjutkan di SMPN 1 Jayanti 2005-2008 saat ini penulis telah melanjutkan sekolah di SMA PGRI BALARAJA

      APTRIA RAHAYU,dilahirkan dikota serang pada tanggal 3 April 1993 ,dari perkawinan Bapak Endang dan Ibu Uriah. Sekarang tinggal di Kp.Banjar Sari RT01/RW03 Ds.Cikande Kec.Cikande Kab.Serang , Prop.Banten.
Jenjang Pendidikan SDN Cikande 3 Tahun1999-2005,melanjutkan di MTS NUR EL TAQWA Kademangan 2005-2008 ,saat ini penulis telah melanjutkan sekolah di SMA PGRI BALARAJA .








31

(Pengunjung Yg Baik Slalu Membaca iklan Yg kami sediakan,Terimakasih)

NB : Bila ingin Copas ‘’Copy Paste’’ Tolong Cantumkan Link Blok ku ini  ya ^,^ Trimakasih.


0 komentar:

Post a Comment

Sungguh amat berterimakasih bila pengunjung meninggalkan koment untuk kemajuan Blog ini dan untuk Eksistensinya.. Terimakasih ^.^

BTCClicks.com Banner
Klik Close Untuk Gabung Ke Grup ==>> close

==:== Pasang Iklan Gratis 1 Bulan ==:==

==:== Kontak Admin Di Grup ==:==